Saat bercanda dengan teman, saya pernah bilang, “Seenak – enaknya makanan, paling enak yang free..” Segalanya yang free, gratis, bebas, apalagi pakai acara rame - rame itu bagi kita selalu asyik dan memberikan dampak menyenangkan, namun bagaimana dengan free sex? Apakah hasilnya juga memberikan dampak menyenangkan??
Teman – teman NTD, dunia remaja, dunia kita, baru saja diguncang oleh kasus yang sungguh memprihatinkan. Dua orang siswi SMA meninggal dibunuh pacarnya dan seorang siswi SMA menikam jantung dan mengiris nadi bayi yang baru dilahirkannya demi melindungi pacarnya. (Semoga Alloh mengampuni dosa – dosanya..)
Mengapa itu bisa terjadi?
Dalam ilmu psikologi remaja dijelaskan bahwa seorang remaja memiliki kecenderungan sifat untuk mencoba - coba, memberontak, tidak mempercayai orang dewasa, berkelompok, memiliki loyalitas yang tinggi terhadap teman, namun masih rendah dalam hal tanggung jawab. Hal ini dianggap sangat benar untuk remaja muda, karena otak remaja tida
k memiliki saraf yang matang. Beberapa daerah di Lobus Frontal Korteks otak dan di Hipotalamus yang penting untuk kontrol diri, penundaan kepuasan, analisis resiko dan penghargaan, belum sepenuhnya matang sampai kita mencapai usia 25-30. Nah, otak yang paling berperan justru Amygdala, si otak pengendali emosi. Itulah sebabnya mengapa kita cenderung bersikap emosional, instinktif dan agresif. Kesimpulannya, secara intelktual dan mental, kita, para remaja, masih dalam taraf berkembang dan berproses untuk mencari jati diri. Oleh karena itulah, bila dalam kondisi galau kita lebih suka curhat pada teman sebaya, dan bila dalam kondisi terdesak tidak jarang kita mengambil tindakan yang dianggap ekstreem oleh orang dewasa.
Apakah saya ini Omez (otak mesum)??
Saat kita dibangku SMP, kita belajar ilmu anatomi dan fungsi dasar dari tubuh. Dari kakak – kakak pembina Kesehatan Reproduksi Remaja, kita belajar apa itu sex bebas dan bahayanya. Sehingga sedikit banyak, kita mengetahui dasar tentang ilmu reproduksi. Suatu ketika teman sebangku saya berkata, “Normal ga se, klo gw liat si X yang cantik n ngegemesin itu jadi membayangkan yg nggak – nggak??“ Well, saya rasa masih normal kok. Saat kita beranjak remaja dan memasuki pubertas, kita akan mengalami apa yang disebut dengan, TANDA PUBERTAS. Yaitu pada laki – laki tumbuh kumis, suara jadi nge-bass, badan menjadi semakin tegap dan tinggi, lalu diakhiri dengan adanya mimpi basah (Keluarnya sperma sebagai tanda bahwa buah zakar mulai memproduksi sperma), dan pada perempuan seperti tumbuhnya payudara, tumbuhnya rambut pada area kemaluan dan ketiak, kemudian diakhiri dengan menstruasi (keluarnya darah dari kemaluan akibat pengelupasan dinding rahim sebagai tanda sudah diproduksinya sel telur). Nah, dengan adanya perubahan tubuh tersebut dan campur tangan Amygdala, apa yang terjadi pada teman saya disebut dengan Sex Fantasi. Sex fantasi termasuk salah satu bentuk ekspresi tubuh yang biasa disebut dengan Ekspresi Seksualitas Remaja. Bentuk lain dari ekspresi seksualitas remaja adalah masturbasi dan melakukan hubungan intim.
Jadi, apakah Free sex dibenarkan??
Amygdala berperan dalam otak remaja untuk membangkitkan instink dan keagresifan kita supaya kita lebih bisa cepat belajar mandiri. Amygdala menyebabkan beberapa perubahan hormonal sehingga kita bisa merasakan apa yang disebut dengan hasrat seksual atau libido. Namun itu bukan satu – satunya hal yang mempengaruhi pola prilaku seksualitas kita. Faktor yang dapat mempengaruhi pola prilaku seksualita diantaranya ada budaya, pola asuh orang tua, mudahnya akses ke forum yang berbau pornografi akibat dari perkembangan tehnologi informasi, dan kecenderungan pergaulan yang semakin bebas antara pria dan wanita.
Untuk membatasi hal tersebut, maka dibuatlah undang – undang perkawinan berupa batasan usia menikah. Karena, bila ditilik dari segi kesehatan, melakukan hubungan seksual pada usia remaja memiliki dampak negatif yang begitu besar, terutama pada remaja putri. Rahim yang belum sempurna untuk kehamilan, dapat menyebabkan terjadinya keguguran, persalinan sebelum waktunya, anemia, keracunan kehamilan, berat bayi lahir rendah (BBLR), cacat bawaan pada bayi, dan kematian pada ibu akibat dari perdarahan. Sedangkan secara umum dampak yang dirasakan oleh remaja baik putra maupun putri antara lain, terkena penyakit menular seksual, putus sekolah, rasa malu yang akan ditanggung oleh individu maupun keluarga, Kekerasan dalam keluarga, perceraian, singgle parent, stigma buruk masyarakat bagi remaja dan bayi yang dilahirkan, bertambahnya beban keuangan keluarga karena remaja belum memiliki penghasilan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar